Monday, February 9, 2009

paguyuban teratai hongkong dan iwhdi hongkong

sebenarnya ini hanya klarivikasi tentang permasalahan yang terjadi di tubuh dua organisasi berbeda yang sebenarnya satu saudara n sedharma yaitu hindu , awal berdirinya organisasi hindu di hongkong bermula dari ketidak sengajaan yang mungkin di berikan oleh Tuhan kepada kita semua , karena pertemuan empat orang teman sedharma yang tadinya tak saling kenal menjadi kenal yang tadinya tak tau menjadi tau kebetulan saat itu kami bertemu di pura happy valley , dari ngobrol'' biasa terus berlanjut ke obrolan yang lebih bersifat keagamaan kebetulan sat itu menjelang hari raya nyepi , dan dari obrolan itu di ambil kesepakatan bahwa kita akan merayaka hari raya bersama'' dengan ke empat teman tadi mungkin juga dengan beberapa teman yang kami kenal , hanya bermodalkan hp dan ngerumpi sana sini ternyata umat hindu di hongkong itu bukan hanya kami berempat semua sungguh di luar dugaan kami bahwa umat hindu di hongkong mencapai ratusan orang yang selama ini tak pernah kami ketahui , dan akhirnya membuat kami kalang kabut dalam merancang acara dari mulai siapa pemangku , siapa pembawa acara dll bahkan minta izin ke pura pun masih dalam bayang ketakutan antara boleh apa nggak? karena kami juga menyedari untuk menggunakan pura orang lain yang akan kami gunakan persembahyangan dengan adat dan istiadat yang berbeda tentunya membutuhkan pengorbanan dan kerendahan hati mereka pemilik pura untuk memberikan izin kepada kita namun ternyata semua itu di mudahkan oleh Sang Hyang Widi Wase bukan hanya izin menggunakan pura yang kami dapatkan tapi sambutan hangat dari mereka membuat kami sangat bahagia dan mensyukurinya , semua ini semakin menambah semangat dari kami untuk terus melaksanakan persembahyangan di setiap minggu ke tiga sebagai acara dharma santi untuk semakin merekatkan hubungan kita dengan umat sedharma. dan seiring berjalannya waktu anggotanya semakin banyak bukan hanya berasal dari banyuwangi , malang , blitar , kediri , bali dan juga lampung bahkan telah mencapai ratusan orang , tanpa kami sadari pula kami telah menjadi organisasi yang berbaur dengan organisasi lainnya dan mulai bergeser dari tujuan semula yang tadinya kusus ke agamaan mulai di ganti dengan ikut lomba nari , lomba gerak jalan , lomba rias tenda , demo dll yang secara tidak langsung telah mananamkan jarak antara agama dan politik , semua berjalan dengan tidak semestinya , kalau biasanya kita bisa tenang dalam melaksanakan persembahyangngan kini tidak lagi karena kita telah di tunggu oleh organisasi lain yang telah mengundang kita , kalau biasanya kita bisa memikirkan masalah demi masalah dengan musyawarah sekarang tidak lagi kerena tak ada lagi waktu untuk itu semua waktu seakan terkuras untuk organissi di luaran yang nggak ada sangkut pautnya dengan keagamaan , bagi mereka yang suka organisasi di luaran mungkin ini suatu kebahagiaan tersendiri tapi bagi mereka yang nggak menginginkan organisasi agama di campur adukkan dengan politik di luar tentu merasa nggak senang dan malas ke pura , untuk apa ke pura kalau yang di bahas cuma undangan sana undangan sini bahkan sembahyangpun rasanya di kejar oleh waktu . disinilah awal mula permasalahan ini di mulai , yang keorganisasi ngotot keorganisasi yang agama tetap ke agama akhirnya yang terjadi malah mencari siapa yang benar dan siapa yang salah , yang keorganisasi menganggap yang keagamaan kolot , markasnya terowongan , terisolasi , nggak mau bercampur dengan orang lain , yang keagamaan menganggap yang keorganisasi itu terlalu egois dan ingin mencari ketenaran belaka , senang berhura'' , yang akhirnya membuat kami bagai api dalam sekam yang suatu waktu bisa membakar kami , dan itu benar' terbukti setelah tanpa kami ketahui dari pihak yang keorganisasi mengundang PHDI pusat jakarta untuk hadir ke hongkong guna meresmikan organisasi kami , tanpa kami ketahui pula telah di rancang bahwa saat itu juga akan diadakan pemilihat pengurus padahal pengurusnya telah ada dan sudah berjalan , karena menurut hemat kami keputusan mengundang PHDI pusat jakarta itu tidak di setujui oleh umat mengingat kami tak punya dana untuk mendatangkan mereka , tak punya tempat untuk membuat pertemuan , tak punya tempat untuk menampung mereka , jadi salahkah kami bila saat itu nggak ada persiapan yang matang karena ketua pun nggak di kasih tau jadi ini hanyalah inisiatif beberapa orang saja yang tak menghargai keputusan bersama sebagai keputusan mutlak dari organisasi , setelah kedatangan dari PHDI pusat dan ternyata kedudukan ketua tetap pada ketua yang lama ini menimbulkan berbagai reaksi dan kekecewaan dari umat yang mengundangnya , bukan kerukunan yang kita dapatkan tapi perselisihan dan persimpangan jalan terus saja terjadi walau masih dalam satu wadah IWHDI HONGONG namun kenyataan yang terjadi kita telah berjalan sendiri'' dan setelah ketua lama pulang ke indonesia diadakan pemilihan baru dengan mengajukan beberapa orang yang mawakili daerahnya masing'' namun dari mereka mangajukan pengunduran diri dan memutuskan untuk keluar ngggak mau di jadikan kandidat setelah membacakan visi dan misi nya ini sesuatu hal yang aneh bukan kan pengunduran diri itu seharusnya du ungkapkan jauh hari sebelumnya bukan pada saat hari H atau setelah membacakan visi dan misi nya lha untuk apa membacakan visi dan misi nya bila mengundurkan diri bahkan menggaris bawahi kalau visi dan misinya seperti yang dia ungkapkan sebelumnya maka dia akan mendukungnya tapi bila tidak maka dia nggak mendukungnya sungguh suatu amarah dan keegoisan yang nggak baik di miliki oleh seorang jalon pemimpin dengan kata lain apakah kemauan seorangpemimpin itu harus mutlak di setujui oleh anggota tanpa harus mendengarkan aspirasi dari anggota tanpa harus mendengarkan keluhan dan keinginan dari anggota , tapi semua itu tak membuat kami menggagalkan pemilihan ini pemilihan terus berlanjut dan akhirnya terpilih ketua wakil dll dan kami berharap dengan reformasi yang diinginkan oleh umat untuk mencari pemimpin lagi segala permasalahan akan berakhir dengan sendirinya namun ternyata kami salah duga mereka tanpa sepengetahuan kami membentuk organisasi baru dengan nama yang sama IWHDI HONGKONG bahkan wakil ketua yang telah terpilihpun mengikuti pemilihan lagi di sini dan menjabat sebagai wakil ketua juga lalu apa maksud semua ini setelah mengundurkan diri malah membentuk organisasi baru . Padahal di sini kami nggak mengekang umat yang ingin berorganisasi di luar namun dengan syarat tetap mengutamakan persembahyangan kita di pura misalnya di hari yang sama kita merayakan persembahyangan di pura dalam rangka merayakan hari raya namun di hari yang sama pula kita mendapatkan undangan untuk hadir dalam rapat atau demo oleh organisasi lain maka yang kita utamakan dulu adalah persembahyangan di pura dan setelah acara selesei masih ada waktu kita bisa menghadiri undangan tersebut karena kita memang organisasi keagamaan bukan organisasi politik jadi salahkan bila keagamaan yang kita dahulukan?

No comments: